Mirisnya Kondisi Rumah Salamah dan Mulyadi

Rumah Salamah tampak depan yang sungguh memperihatinkan (Rzi)

Lingga (TERBILANG) – Miris, itu lah kata-kata yang keluar jika melihat rumah tempat kediaman Salamah (40) dan suami yakni Mulyadi (46) serta tiga orang anaknya di Dusun I Matang, Desa Duara, Kecamatan Lingga Utara.

Pantauan di lapangan, rumah yang didiami tepat di depan surau kampung Matang tersebut memang sungguh memperihatinkan. Terlihat, dinding sudah banyak yang keropos, atap dapur yang terbuat dari daun rumbia sudah mulai berlobang serta tongkat sudah tidak tegak seperti biasanya memang butuh perhatian.

Diceritakan Salamah. Sejak beberapa tahun lalu, rumahnya yang berada dipinggir jalan beton di Desa Duara tersebut tidak pernah mendapat bantuan baik dari pemerintah daerah, provinsi dan bahkan pemerintah pusat.

Namun, ia menyadari mungkin tidak dapatnya rumah yang ia diami tersebut dikarenakan suaminya berstatus sebagai ketua RW waktu itu. Sehingga, rumah yang boleh dikatakan tidak layak lagi untuk ditinggali tidak mendapatkan sentuhan bantuan.

“Saya ini kerja sebagai Pembantu rumah tangga. nyuci baju orang cina di Pancur. Satu bulan itu Rp200 ribu, itu lah yang ditunggu tiap bulannya. Kadang-kadang disuruh orang ngikis ikan. Itulah untuk makan, kadang tak cukup juga,” ungkapnya sambil meneteskan air mata yang mengalir di pipinya, Senin (06/02).

Mulyadi di dapur rumahnya dilihat dari luar (Rzi)

Sementara itu, Mulyadi yang merupakan suami dari Salamah turut membenarkan atas apa yang disampaikan sang istri. Pria yang saat ini tidak memiliki pekerjaan tetap tersebut harus pasrah tinggal di rumah yang hanya tinggal menunggu waktu untuk ambruk tersebut.

“Kalau dulu itu kerja saya nelayan. Tapi nelayan tidak punya sampan, tidak punya perahu pompong. Istilah bahasa diajak orang mukat, jaring ikan, ya saya ikut. Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang kalau ada yang nyuruh nebas, itu lah yang saya kerjakan. Tapi, sekarang lagi sepi,” terangnya.

Disampaikan Mulyadi, saat ini pendapatan dari pekerjaan yang ia lakukan tidak mampu untuk membangun rumah yang lebih layak lagi untuk didiami istri serta anak-anaknya tercinta. Hal itu dikarenakan, pendapatan tersebut hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Anak saya laki-laki yang paling tua kuliah di UMRAH Tanjungpinang. Ini butuh duit lagi. Dari mana kami mau cari. Sebenarnya kami tidak ngasih dia kuliah, tapi ini kemauan dia lah, dia sambil kerja. Kalau tidak, saya tidak sanggup lagi mau bayar. Tapi niat anak saya kuat ingin kuliah,” ungkapnya dengan raut muka sedih.

Dengan demikian, ia sangat berharap kepada dinas terkait dalam pendataan untuk bantuan bedah rumah maupun rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk dapat turun langsung ke lapangan. Hal tersebut guna melihat mana yang lebih layak mendapatkan bantuan dana mana yang tidak.

“Kalau dapat nanti dinas turun langsung, biar bisa lihat mana yang mestinya dapat bantuan dan mana yang tidak,” harapnya.

Kondisi ruang tamu rumah Salamah dan Mulyadi (Rzi)

Sebagaimana diketahui, saat ini Salamah dan Mulyadi hanya bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun sempat mendirikan tongkat beton di belakang rumahnya tersebut, hal itu hanya terbengkalai dikarenakan tidak memiliki modal untuk melanjutkan pembangunan. Saat ini ia hanya bisa menikmati rumah yang sudah lusuh dan tinggal menunggu waktu saja.