BI Jelaskan Kondisi Hutang Luar Negeri RI

Ilustrasi

Bandung (TERBILANG) – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan IV 2016 tercatat sebesar US$ 317,0 miliar atau tumbuh 2,0% (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka panjang tumbuh 1,1% (yoy), sementara ULN jangka pendek tumbuh 8,6% (yoy).

Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan tahunan ULN sektor publik meningkat, sementara pertumbuhan tahunan ULN sektor swasta terus menurun. Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir triwulan IV 2016 tercatat sebesar 34,0%, turun dari 36,2% pada akhir triwulan III 2016.

“Kalau kita lihat dari perkembangan fundamental valas Indonesia, kebijakan kewajiban penggunaan rupiah menurunkan begitu banyak transaksi. Tadinya dolar sekarang rupiah,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Yoga Affandi di Crowne Plaza, Bandung, Sabtu (18/02).

Turunnya ULN swasta juga terjadi karena semakin banyaknya alternatif pembiayaan dari dalam negeri, seperti penerbitan surat berharga.

“Korporasi saat ini tidak lagi andalkan dari perbankan karena suku bunga rendah mereka terbitkan surat berharga, bonds, obligasi, MTN. Sangat baik dan tidak mengganggu nilai tukar,” tutur Yoga.

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang. Posisi ULN berjangka panjang pada akhir triwulan IV 2016 mencapai USD274,9 miliar atau sebesar 86,7% dari total ULN. ULN jangka panjang tersebut tumbuh sebesar1,1% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan III 2016 sebesar 8,7% (yoy).

Sementara itu, posisi ULN berjangka pendek pada akhir triwulan IV 2016 tercatat USD42,1 miliar atau sebesar 13,3% dari total ULN. ULN jangka pendek ini tumbuh sebesar 8,6% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan III 2016 yang tumbuh sebesar 4,6% (yoy).

Meski ULN jangka pendek meningkat, kemampuan cadangan devisa untuk menutupi kewajiban jangka pendek membaik. Hal itu tercermin pada rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa yang turun dari 37,4% pada triwulan III 2016 menjadi 36,1% pada triwulan IV 2016 sejalan dengan meningkatnya posisi cadangan devisa.

Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. Pada akhir triwulan IV 2016, posisi ULN sektor swasta mencapai USD158,7 miliar atau sebesar 50,1% dari total ULN. Sementara itu, posisi ULN sektor publik tercatat USD158,3 miliar atau sebesar 49,9% dari total ULN.

ULN sektor swasta turun sebesar 5,6% (yoy) pada triwulan IV 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya sebesar 2,0% (yoy). Sementara itu, ULN sektor publik tumbuh 11,0% (yoy) pada triwulan IV 2016, lebih lambat dari triwulan sebelumnya sebesar 20,8% (yoy).

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir triwulan IV 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih.

Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%. Pertumbuhan ULN pada sektor keuangan, industri pengolahan, dan pertambangan menurun dibandingkan dengan triwulan III 2016. Sementara itu, pertumbuhan tahunan ULN sektor listrik, gas & air bersih melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan IV 2016 tetap sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas makroekonomi. (Detik)