Begini Uniknya Simpang Susun Semanggi Kedepan

Penampakan Simpang Susun Semanggi yang akan dibangun canggih kedepannya (Kompas)

Jakarta (TERBILANG) – Simpang Susun Semanggi yang rencananya akan jadi infrastruktur pengentas kemacetan di kawasan itu, ternyata menyimpan keunikan dan cerita di baliknya.

 

Deputi General Manager Superintendent Proyek Simpang Susun Semanggi dari Wijaya Karya, Dani Widiatmoko menuturkan, Simpang Susun Semanggi memiliki salah satu teknologi jembatan tercanggih saat ini.

 

Dua Flyover yang melingkar ini tersusun dari 333 segmental box girder yang telah dicetak (precast) untuk kemudian disusun. Tantangannya, jika cetakan tidak sama persis atau berbeda beberapa sentimeter saja, antara box yang satu dengan yang lain tidak akan bertemu sempurna.

 

Jarak antarkolom terjauh, sekitar 80 meter, menuntut kepresisian dalam pemasangan, sebab jika tidak, flyover ini bisa ambruk sewaktu-waktu.

 

“Pengerjaannya enggak expose, seringkali ada beton yang keliatan, itu namanya cold joint, karena sambungan antara cor beton yang lama sama baru enggak ketemu. Kemudian di kolomnya Anda lihat benar-benar expose presisi, silakan benchmark (bandingkan) ke tempat yang lain,” kata Dani di lokasi, Selasa (21/02).

 

Kecanggihan teknologi ini sebenarnya bukan yang pertama. Jembatan Semanggi, bersama Gelora Bung Karno, awalnya merupakan proyek prestise Bung Karno saat menyambut tamu Asian Games tahun 1962.

 

Jembatan tersebut mulai dibangun pada 1961. Ketika Presiden Soekarno telah mantap dengan idenya untuk membangun sebuah stadion olah raga megah di kawasan Senayan, Ir Sutami mengusulkan membangun jembatan guna mengatasi kemungkinan munculanya persoalan kemacetan lalu lintas.

 

Sutami, yang kala itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum (PU), memunculkan ide itu dalam rapat kabinet. Dia mengaku khawatir, kemacetan lalu lintas bakal timbul jika ada acara besar di Senayan.

 

“Jembatan Semanggi yang lama pada masanya menggunakan teknologi beton yang paling update, menggunakan precast. Kemudian di zaman pak Harto simpang Semanggi ini dikembangkan ada Tol Dalam Kota, nah terus di zaman pak Jokowi dan pak Ahok ini disempurnakan,” ujar Dani.

 

Berbeda dari jembatan pada umumnya di Ibu Kota dan Indonesia, Simpang Susun Semanggi memiliki dimensi xyz, atau tiga dimensi, yakni memiliki ramp on dari bawah kemudian membentang dengan melingkar, dan ramp off atau turunan.

 

Adapun jembatan ini didesain oleh Jodi Firmasyah, ahli jembatan dari ITB yang pernah merancang Jembatan Barelang yang kini jadi ikon Pulau Batam.

 

Simpang Susun Semanggi yang rencananya akan jadi ikon Jakarta kedua setelah Monas, tak hanya menyimpan kecanggihan namun estetika dengan makna personal bagi Jakarta.

 

Salah satu estetika yang akan dinikmati warga nantinya adalah pencahayaan lampu warna-warni di sepanjang bentangnya.

 

Ketika diinisiasi pada 1961, Semanggi dipilih sebagai nama jembatan tersebut. Semanggi sesungguhnya nama lokal (Jawa) tumbuhan marsileaceae yang bisa dijadikan lalapan. Tanaman merambat itu hidup di semak, berdaun majemuk, dan biasa di temukan di dekat perairan.

 

“Jembatan ini kita anggap seperti daun semanggi, mengapung di atas air, sehingga nanti lampunya itu bisa disetel warnanya kemudian dengan software khusus kita berikan efek seperti gelombang air,” kata Dani.

 

Dani mengatakan pakar pencahayaan dari Australia tengah mengkaji desain pencahayaan Simpang Susun Semanggi. Lampu ini nantinya bisa dikendalikan dari Balai Kota, tepatnya markas Jakarta Smart City.

 

Adapun pagar flyover atau parapet, memiliki motif daun semanggi di sisi luarnya, sedangkan sisi dalam akan bermotif gigi balang seperti rumah adat Betawi.

 

“Parapetnya kita gunakan kearifan lokal,” ujar Dani.

 

Pengerjaan pembangunan Simpang Susun Semanggi dilakukan PT Wijaya Karya Tbk. Dana yang dianggarkan untuk pembangunan proyek itu yang mencapai Rp 360 miliar. Dana tersebut berasal dari nilai kompensasi pengembang PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.

 

Jembatan layang Semanggi ini akan terdiri dari dua ruas. Satu ruas diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Cawang menuju ke Bundaran Hotel Indonesia, dan satu ruas lainnya untuk kendaraan dari arah Slipi menuju Blok M.

 

Wajah terbaru Semanggi ini rencananya akan diresmikan pada 17 Agustus 2017 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia. (Kompas)